Tampilkan postingan dengan label bisnis keripik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis keripik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2009

Sebagian besar penduduk Indonesia, bahkan dunia, hampir dapat di pastikan mengenal pisang (banana).Berdasarkan penelusuran literatur, pisang sudah di kenal dan dikonsumsi sejak dahulu.Pada zaman kaisar Romawi, Octavius Agustus, berkuasa, seorang dokter bernama Antonius Musa berjasa menganjurkan makan pisang untuk kesehatan kaisar, untuk mengenal jasa dokter Musa, maka nama latin pisang di tetapkan Musa Paradisiaca.

Inventarisi plasma nutfah pisang di Indonesia dimulai pada abad XVIII. Pengembangan budidaya pisang pada mulanya terpusat di daerah Banyuwangi, Palembang, dan beberapa wilayah di Jawa barat. Dewasa ini, pisang sudah ditanam di seluruh wilayah nusantara. Hampir semua bagian tanaman pisang memiliki nilai guna dalam kehidupan sehari-hari. Bagian utama dari tanaman pisang yang memiliki nilai sangat tinggi adalah buah pisang. Bagian lain tanaman pisang yang bisa di manfaatkan adalah bonggol (Corm) yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan makanan sampai pembuatan sabun.

Bonggol pisang biasanya oleh masyarakat hanya di buang setelah mengambil buah pisang. Oleh karena itu kami mempunyai inisiatif bahwa bonggol pisang bisa di manfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi salah satu bentuk pemanfaatan dari bonggol pisang adalah pembuatan Keripik dari bonggol pisang .Untuk menambah nilai ekonomi dari keripik bonggol pisang maka keripik bonggol pisang dapat di buat beraneka rasa seperti rasa coklat dan rasa keju.

Usaha pembuatan keripik bonggol pisang aneka rasa sangat menjanjikan karena di pasaran masih belum ada.Aneka penganekaragaman rasa keripik bonggol pisang bisa menambah keanekaragaman makanan khas yang bisa di produksi sesuai permintaan pasar. Keadaan ini merupakan peluang bisnis yang sangat menjanjikan bagi masyarakat .Hal ini karena pengolahan bonggol masih kurang di manfaatkan dan kurang produktif. Oleh karena itu dengan adanya pengolahan keripik bonggol pisang menjadikan nilai ekonomi dan sosial yang cukup tinggi terhadap bonggol pisang.

Keripik bonggol pisang aneka rasa mempuyai peluang bisnis yang cukup tinggi jika di olah dengan benar dan di pasarkan secara tepat, selain itu juga akan menjadi alternatif makanan bagi masyarakat dalam pembelian keripik bonggol pisang. Potensi pasar yang luas dan ketersediaan jumlah bahan baku yang melimpah yang ada di masyarakat akan menjadikan nilai tambah bonggol pisang. Oleh karena itu hendaknya bisa di manfaatkan oleh pengusaha kecil dan petani tanaman pisang guna menambah pendapatan.
(Sumber : http://mas-devid.blogspot.com)

Sulap Limbah Jadi Bisnis

Bagi orang lain, kulit ikan berakhir jadi limbah. Namun, Wildan Mathlubi menyulapnya menjadi bisnis yang tak pernah terpikirkan orang lain.

Ide memanfaatkan limbah kulit ikan terbersit saat dirinya praktik kerja lapang (PKL) di sebuah perusahaan fillet ikan di Bogor. Saat itu, puluhan kilo kulit ikan hasil pengolahan terbuang percuma setiap hari. ”Saya kemudian mencoba mengembangkan teknologi sederhana untuk meningkatkan nilai tambahnya,” jelas Willy, sapaan akrabnya. Lewat penelitian yang sekaligus bahan penyusunan skripsi di Jurusan Teknologi Perikanan, IPB, ia mencari cara mengolah bahan yang banyak terbuang itu.

Berbekal ilmu pengolahan yang didapatkan selama PKL, Willy memberanikan diri membuka bisnis olahan kerupuk kulit ikan. Bermodal awal Rp200 ribu, ia yang saat itu masih berstatus mahasiswa, membeli kulit ikan patin dan kakap sebanyak 10 kg sebagai bahan baku. Kerupuk ikan hasil olahannya ternyata cukup diminati konsumen. Tak menduga respon produknya cukup baik, permintaan terus mengalir ke CV Alfa Dinar miliknya. Omzetnya pun terus menggembung dan sekarang mencapai Rp10 juta—Rp15 juta per bulan.

Tanpa Pengawet

Pengusaha muda yang baru berusia 25 tahun itu, kini mempekerjakan delapan orang karyawan. Produksinya meliputi empat kuintal kulit ikan patin, empat kuintal kulit ikan kakap, dan satu kuintal fillet ikan. Kerupuk kulit ikan buatannya dipasarkan hingga ke Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Purwakarta, dan Surabaya.

Willy juga memasarkan produknya lewat ajang pameran. Lewat kegiatan inilah ia banyak mendapat order keluar Bogor. Untuk wilayah Bogor, pemasarannya sudah merambah ke sejumlah minimarket yang ada di kota tersebut. “Nanti saya akan coba pasarkan melalui hypermarket yang ada di mal-mal,” harapnya.

Lebih lanjutnya mengenai liputan ini baca di Tabloid AGRINA versi Cetak volume 4 Edisi No. 87 yang terbit pada Rabu, 17 September 2008.

(Sumber : http://willycafe.blogspot.com/)


Selasa, 18 Agustus 2009

Keripik Tahu, Alternatif Cemilan Sehat dari Pekalongan


Apa yang bisa dilakukan dengan tahu? Digoreng untuk dijadikan lauk, dibuat pepes tahu, bacem tahu dan lain-lain. Mungkin itu yang akan terbayang. Tapi tahukah anda jika tahu tidak hanya lezat dijadikan lauk menu sehari-hari tetapi juga dapat diolah menjadi makanan ringan yang gurih dan lezat ? Seperti halnya tempe, sebagai sahabat karibnya, tahu juga bisa dibuat keripik. Bagaimana ya rasanya? Seperti keripik tempe, keripik tahu juga gurih dan renyah. Bumbu dan cara pembuatannyapun tidak jauh berbeda.

Keripik adalah makanan ringan (snack food) yang tergolong jenis makanan crackers, yaitu makanan yang bersifat kering renyah (crispy). Keripik memang cemilan yang cukup digemari masyarakat kita, mulai dari anak – anak hingga ke orang tua. Makanan ringan yang gurih dan renyah ini memang cocok menjadi cemilan / teman saat berkegiatan, serta dapat pula dimakan sebagai pengganti lauk pauk.

Jika Anda ingin mencicipi keripik tahu ini, cobalah berkunjung ke Pekalongan. Di daerah Pekalongan, keripik tahu sudah menjadi cemilan khas daerah sebagai salah satu alternatif makanan ringan yang sehat dan alami. Di toko makanan atau oleh-oleh di Pekalongan, keripik tahu biasanya dipajang di etalase bersama jajanan lainnya. Seperti halnya keripik tempe, keripik tahu tak hanya renyah, namun juga menyehatkan karena terbuat dari bahan alami, yaitu kedelai. Prosesnya juga dilakukan secara alami tanpa bahan pengawet atau kimia.

Dikutip dari Harian Suara Merdeka, Keripik tahu bahkan telah meraih penghargaan sebagai salah satu makanan sehat dalam Festifal Makanan Tradisional 2000 yang digelar Pemprov Jateng. Hal ini karena baik bahan maupun proses pembuatannya dilakukan tanpa bahan kimia.

Peluang pasar keripik tahu ini sangat baik, mengingat jumlah peminat cemilan keripik cukup banyak ditambah tingkat persaingan yang masih rendah. Tertarik ingin mencoba usaha keripik tahu? Berikut disajikan cara pembuatan keripik tahu.

Pembuatan Keripik Tahu

  • Olah kedelai menjadi tahu dengan cara masak kedelai sebanyak 12 kg selama 1,5 jam.
  • Setelah matang, kedelai dipress selama 5-10 menit untuk menghilangkan airnya.
  • Masukan kedelai yang telah ditiris tersebut ke dalam mesin selep (mesin pelumas/panghalus).
  • Campur kedelai halus dengan bumbu seperti garam, soda kue dan keju sebanyak 100 gr dan masukkan ke mesin pembulat hingga membentuk tahu berbentuk bulat dan diamkan selama 12 jam.
  • Goreng tahu selama 3-5 menit. Jika telah matang yang ditandai dengan kulit tahu berwarna kekuningan lalu anghkat dan tiriskan.
  • Potong tahu menjadi 2 bagian lalu keluarkan isi tahu tersebut sehingga tersisa bagian kulit tahu.
  • Goreng kembali kulit tahu tersebut sampai kering dengan ciri keripik matang yaitu kulit tahu berwarna coklat keabuan. Angkat dan tiriskan.
  • Stelah dingin, Kerupuk Tahu siap dikemas dan siap di distribusikan.

(Sumber : www.bisnisukm.com)